Benua Pos | Jakarta – Grogol, salah satu kawasan padat di Jakarta Barat, menjadi titik awal bagi banyak perantau yang datang ke Jakarta dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun, realitas yang mereka temui jauh dari kata ideal.
Bagi para pendatang dari daerah, khususnya mereka yang berpendidikan rendah, Grogol sering kali hanya menawarkan kerasnya kehidupan kota besar. Mereka tinggal di rumah kos sempit yang kumuh, tanpa ventilasi layak, dan mengandalkan makanan kedaluwarsa demi bisa bertahan hidup.
Afif (23), seorang perantau asal Yogyakarta, menceritakan kisah pilunya kepada Benua Pos. Ia datang ke Jakarta dengan semangat mencari pekerjaan. Namun yang ia temui justru pekerjaan serabutan dengan upah tak menentu.
“Kadang makan cuma mi instan sisa, atau roti yang udah lewat tanggalnya tapi masih bisa dimakan,” kata Afif. “Tidur juga harus gantian kalau semua teman kos pada pulang bareng. Kamarnya kecil banget.”
Fenomena ini bukan hal baru. Urbanisasi yang tidak diiringi pemerataan ekonomi membuat banyak pendatang terjebak dalam kemiskinan struktural. Minimnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak membuat mereka bertahan hidup dengan cara apa pun.
Pemerintah setempat diharapkan lebih peka terhadap kondisi para perantau dan penghuni kawasan padat seperti Grogol. Selain penyediaan tempat tinggal yang layak, juga perlu ada program pelatihan kerja agar mereka tidak terus berada dalam lingkaran pekerjaan informal yang rawan eksploitasi.
BENUA POS




