Yogyakarta, Benua Pos — Pemerintah Kota Yogyakarta resmi memperkenalkan program Food Bank sebagai langkah strategis mengatasi tantangan ketahanan pangan sekaligus menekan angka limbah makanan. Inisiatif ini diumumkan langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang menyebut food bank sebagai solusi konkret atas masalah klasik pangan kota.
“Yogyakarta menghadapi keterbatasan lahan pertanian, hanya sekitar 32,67 hektar. Di sisi lain, lebih dari 40% sampah kita berasal dari sisa makanan. Ini paradoks. Food bank menjadi jawaban,” tegas Hasto dalam pernyataan resminya.
Food bank akan menghimpun kelebihan makanan layak konsumsi dari hotel, restoran, hingga layanan katering, lalu menyalurkannya kepada warga yang membutuhkan—terutama para lansia yang tidak tinggal di panti. Program ini menggandeng PHRI DIY dan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang sebelumnya telah menginisiasi program food rescue.
Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta akan berperan sebagai sekretariat utama, mengoordinasi pengumpulan, penyimpanan, dan distribusi makanan. Guna menjaga kualitas dan keamanan pangan, Pemkot Jogja juga membentuk tim pengawas agar tidak ada makanan basi yang tersebar.
Program ini dijadwalkan akan mulai diluncurkan secara resmi pada tanggal 10 atau 12 Mei 2025 mendatang.
“Ini adalah bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri bisa menciptakan sistem distribusi pangan yang adil, aman, dan efisien. Kita mulai dari Jogja, semoga bisa jadi contoh nasional,” tutup Hasto.
Liputan: Redaksi Benua Pos
Editor: Tim Benua Pos
YouTube: @BenuaPos | Web: www.benuapos.my.id




