-->
  • Jelajahi

    Copyright © BENUA POS KOTA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Untuk Gaza


     

    Karir


     

    Menu Bawah

    Nelayan Gambia Jadi Korban Konflik di Laut, Luka Bakar Akibat Serangan

    Redaksi
    30 Agustus 2025, 16:10 WIB Last Updated 2025-08-30T10:00:53Z
    masukkan script iklan disini


    BANJUL, Gambia | Benua Pos Kota
    Kawsu Leigh, seorang pelaut asal Gambia, masih bergelut dengan rasa sakit setahun setelah tubuhnya dilalap api di atas sebuah kapal. Kulitnya penuh luka bakar basah yang membekas di sebagian besar tubuh bagian atas.

    Hari naas itu bermula seperti biasa. Leigh dijadwalkan bekerja sebagai awak di salah satu kapal penangkap ikan komersial milik asing yang beroperasi di lepas pantai Afrika Barat. Namun, hari itu berakhir dengan tragedi ketika ia menjadi korban serangan pembakaran yang diduga dipicu oleh konflik antara nelayan lokal dan kapal asing.

    Ketegangan di perairan Gambia memang meningkat tajam. Nelayan tradisional menuduh kapal-kapal asing melakukan perambahan ilegal dan sabotase. Bentrokan terbaru melibatkan kapal Abu Islam berbendera Mesir. Video insiden tersebut, yang diperoleh The Associated Press, menunjukkan bagaimana perselisihan memanas dan berubah menjadi kekerasan.

    Namun yang memperparah keadaan, korban dalam tragedi ini justru warga Gambia sendiri. Leigh, yang seharusnya mencari nafkah di laut, terjebak dalam konflik antara nelayan lokal dan kapal asing yang mempekerjakan awak Gambia. “Rakyat Gambia kini berperang melawan rakyat Gambia di laut,” tulis laporan AP, menggambarkan bagaimana pasar global dan selera asing mendorong persaingan yang tak terkendali.

    Ekonomi Perikanan yang Diperebutkan

    Afrika Barat, termasuk Gambia, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan stok ikan terkaya di dunia. Nilai industri perikanan di kawasan ini diperkirakan mencapai lebih dari USD 2 miliar per tahun.

    Namun, sebagian besar keuntungan justru mengalir ke kapal-kapal asing, terutama dari Eropa dan Asia. Sebuah laporan Bank Dunia menyebutkan, lebih dari 40 persen tangkapan ikan di Afrika Barat dilakukan secara ilegal oleh kapal asing, sehingga merugikan negara-negara kecil seperti Gambia, Senegal, dan Sierra Leone.

    Bagi masyarakat lokal, ikan bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi juga sumber utama protein. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen kebutuhan protein hewani masyarakat Gambia dipenuhi dari ikan. Maka, ketika stok ikan menipis akibat eksploitasi besar-besaran, nelayan tradisional terpaksa melaut lebih jauh dengan risiko lebih tinggi.

    Kebijakan dan Tantangan

    Untuk menekan dominasi kapal asing, pemerintah Gambia memberlakukan kebijakan yang mewajibkan kapal-kapal asing mempekerjakan awak lokal. Namun kebijakan ini membawa konsekuensi tak terduga: para pelaut Gambia yang bekerja di kapal asing kini rentan terjebak dalam konflik dengan sesama nelayan Gambia.

    Situasi ini mencerminkan dilema besar: di satu sisi, pemerintah ingin membuka lapangan kerja dan meningkatkan pemasukan negara dari industri perikanan; di sisi lain, konflik horizontal antarwarga justru kian tak terelakkan.

    ( AP) jurnalis: Grace Ekpu
    Artikel asli klik disini
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +