BENUA POS | Secara resmi dan filosofi aslinya, PSHT itu tidak mengajarkan kekerasan apalagi pengeroyokan.
PSHT itu lahir dari ajaran persaudaraan, pengendalian diri, dan membela kebenaran tanpa arogansi. Motto mereka:
"Memayu hayuning bawono"
"membuat dunia menjadi lebih baik, menjaga keselamatan dan keindahan dunia").
Tapi kenapa di lapangan sering terjadi pengeroyokan?
Itu biasanya karena beberapa oknum atau anggota-anggota muda yang:
Emosional, tidak sabar,
Salah paham soal “solidaritas” (diartikan membela teman tanpa pikir panjang),
Dipicu masalah kecil yang dibawa ke gengsi perguruan,
Kadang karena pengaruh minuman keras atau provokasi eksternal.
Budaya keroyokan bukan bagian dari ajaran resmi PSHT.
Bahkan dalam AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) PSHT, ada sanksi untuk anggota yang mencoreng nama baik perguruan dengan terlibat tawuran atau kekerasan.
Singkatnya:
Tradisi resmi = persaudaraan, damai, menjaga kehormatan.
Yang keroyokan = perilaku individu atau kelompok kecil, bukan perintah dari organisasi pusat.
Kesimpulan
Oke, aku jelaskan lebih dalam, berdasarkan dokumen resmi PSHT (terutama AD/ART dan pedoman organisasi).
1. Prinsip Dasar PSHT:
Dalam Anggaran Dasar PSHT, ada prinsip-prinsip seperti:
Membentuk manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah.
Mengutamakan persaudaraan tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.
Mengabdi kepada negara, bangsa, dan masyarakat dengan nilai kemanusiaan.
2. Sikap terhadap Kekerasan:
Di dalam AD/ART PSHT, disebutkan:
> Setiap Warga PSHT wajib menjaga nama baik organisasi di manapun berada. Setiap bentuk kekerasan, tindakan anarkis, atau merusak ketertiban umum dilarang keras dan bertentangan dengan ajaran PSHT.
Bahkan, jika ada anggota melakukan:
Pengeroyokan,
Tawuran,
Penggunaan kekerasan,
Merusak nama baik PSHT,
maka hukumannya adalah sanksi organisasi, berupa:
Peringatan keras,
Skorsing keanggotaan,
Hingga pemecatan sebagai warga PSHT.
3. Filosofi Latihan PSHT:
Dalam setiap latihan resmi, diajarkan:
Bela diri adalah untuk membela diri, bukan menyerang.
Mengendalikan emosi lebih penting daripada menang.
Berani karena benar, bukan berani karena ramai-ramai.
Ada istilah dalam PSHT:
> "Kita tidak mencari musuh, tapi tidak lari dari kebenaran."
4. Kenapa tetap ada kejadian di lapangan?
Biasanya karena:
Oknum yang belum dewasa dalam memahami ajaran perguruan.
Pengaruh lingkungan sekitar (kadang ikut-ikutan teman, bukan karena diajari PSHT).
Adanya rivalitas tidak sehat antar kelompok atau antar perguruan (bukan ajaran resmi PSHT).
Contoh:
Kalau ada satu anggota yang bermasalah, biasanya teman-teman merasa "harus membela". Tapi itu salah kaprah dalam memahami "persaudaraan", karena persaudaraan PSHT itu mengajarkan damai, bukan menyerang.




